Kegiatan Business Matching Program Penguatan Rantai Pasok (Supply Chain) UMKM yang digelar LP UMKM Muhammadiyah dengan Kementerian UMKM/foto: ist BICARAINDONESIA-Yogyakarta: Lembaga Pengembangan UMKM (LP UMKM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM Republik Indonesia menggelar Business Matching Program Penguatan Rantai Pasok (Supply Chain) UMKM, Selasa (30/6/2026).
Kegiatan ini merupakan langkah nyata mendorong pengusaha usaha mikro naik kelas yang harus terus digelorakan.
Bertempat di Kampus Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, kegiatan tersebut dihadiri antara lain perwakilan PP Aisyiyah, Majelis Pengembangan Masyarakat PP Muhammadiyah dan Rektor Unisa.
Poin pentingnya sukses mempertemukan produk-produk lokal terbaik dengan raksasa ritel dan agregator nasional, serta diproyeksikan mampu mencetak potensi nilai transaksi hingga Rp 2,2 miliar.
Kegiatan ini merupakan puncak dari program pendampingan intensif yang diinisiasi sejak 15 Juni 2026. Dari total 60 UMKM binaan LP UMKM Muhammadiyah asal wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta yang mendaftar, sebanyak 48 UMKM berhasil lolos kurasi menuju tahap pitching, dan 25 UMKM terpilih melaju ke tahap negosiasi langsung, one-on-one business matching dengan para buyer utama.
Tidak tanggung-tanggung, para pelaku
UMKM langsung berhadapan dengan agregator pasar dan korporasi jaringan nasional, antara lain Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Krisna Oleh-Oleh Bali, PT Food Station Tjipinang Jaya, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart), dan PT Indomarco Primatama (Indomaret).
Ketua LP UMKM Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Pengembang dan Pelatihan, Bambang Sutrisno menegaskan bahwa Business Matching ini menjadi jembatan konkret (concrete bridge) untuk memecah tantangan akses pasar yang sering dihadapi pelaku usaha mikro.
“Keberhasilan pembinaan UMKM tidak boleh berhenti pada seremonial
pelatihan, melainkan harus bermuara pada akses pasar yang berkelanjutan.
Potensi transaksi sebesar Rp2,2 miliar ini membuktikan produk UMKM binaan Muhammadiyah memiliki daya saing tinggi. Kami akan mengawal proses lanjutan dari Letter of Intent (LoI) hingga terwujudnya sales contract sehingga terciptanya kemitraan jangka panjang yang inklusif,” ujarnya.
Di sisi lain Kementerian UMKM di wakili Asdep Kemitraan dan Rantai Pasok Usaha Mikro- Deputi Bidang Usaha Mikro, Pristiyanto menyampaikan bahwa agenda ini merupakan implementasi nyata dari komitmen Pemerintah dalam mengorkestrasi ekosistem kemitraan usaha mikro agar masuk ke dalam rantai pasok industri nasional.
“Penguatan rantai pasok adalah kunci agar UMKM kita tidak berjalan sendiri-sendiri. Lewat sinergi bersama LP UMKM Muhammadiyah, kita membangun agregasi produk yang berkualitas, konsisten, dan berkelanjutan. Korporasi mendapatkan kepastian pasokan bahan baku lokal bermutu, sementara UMKM mendapatkan kepastian pasar (offtaker). Ini adalah model ideal dari gotong royong ekonomi nasional,” ungkapnya.
Melalui skema kemitraan ini, nilai transaksi Rp 2,2 miliar tersebut diharapkan dapat segera terealisasi secara bertahap. Dampak jangka panjang dari program kolaboratif ini tidak hanya memperluas skala usaha dan kapasitas produksi pelaku mikro, namun juga menciptakan lapangan kerja baru serta memperkokoh ketahanan
ekonomi nasional berbasis umat dan kerakyatan.
Tentang LP UMKM PP Muhammadiyah: Lembaga Pengembangan UMKM (LP UMKM) PP Muhammadiyah adalah struktur persyarikatan yang bergerak dalam pemberdayaan, pendampingan, dan akselerasi ekonomi warga serta masyarakat luas guna mewujudkan
kemandirian ekonomi bangsa yang berkeadilan. (Rz/*)