x

Buntut Dugaan Pelecehan Mahasiswi Asing, Guru Besar Unpad Akhirnya Dinonaktifkan

2 minutes reading
Thursday, 16 Apr 2026 16:14 0 97 Ika Lubis

BICARAINDONESIA-Jakarta : Warganet ramai menyoroti kasus dugaan kekerasan seksual terhadap mahasiswi asing (program pertukaran pelajar) di Universitas Padjadjaran (Unpad) yang beredar di media sosial. Kasus tersebut diduga melibatkan oknum guru besar di lingkungan kampus.

Rektor Unpad, Arief Sjamsulaksan Kartasasmita akhirnya angkat bicara mengenai kasus tersebut. Ia menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa tersebut dan menegaskan bahwa Unpad tidak mentoleransi segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual, di lingkungan kampus.

“Sebagai institusi pendidikan tinggi, Unpad berkomitmen untuk menjunjung tinggi nilai-nilai integritas, keamanan, dan perlindungan bagi seluruh sivitas akademika. Setiap dugaan pelanggaran akan ditindaklanjuti secara serius dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Arief, Kamis (16/4/2026).

Unpad telah melakukan penelusuran awal saat mengetahui kasus ini. Arief menyebut, oknum dosen yang diduga terlibat telah dinonaktifkan sementara dari seluruh kegiatan akademik.

“Setelah menerima laporan secara lengkap, pada hari yang sama Unpad segera mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan sementara dosen yang bersangkutan dari seluruh kegiatan akademik,” tuturnya.

Selanjutnya, Unpad menjalankan prosedur penanganan sesuai aturan yang berlaku, termasuk membentuk tim investigasi. Proses ini melibatkan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) Unpad serta unsur senat fakultas untuk memastikan penelusuran berjalan objektif dan menyeluruh.

Arief menegaskan bahwa apabila terbukti terjadi pelanggaran, pihak kampus akan menjatuhkan sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Unpad akan konsisten melakukan proses pembuktian dan penindakan kekerasan sesuai dengan perundang-undangan, dan memprioritaskan kepentingan dan keselamatan pihak yang menjadi korban. Itu berlaku untuk semua warga Unpad, termasuk dosen, mahasiswa, maupun tenaga kependidikan,” katanya.

Di sisi lain, Unpad menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menangani kasus kekerasan seksual agar tidak menimbulkan kesalahan dalam pengambilan keputusan.

“Unpad akan selalu memperhatikan prosedur pembuktian dengan seksama melalui perangkat yang ada agar tidak menimbulkan keputusan yang keliru, walaupun titik keberpihakan Unpad adalah kepada korban,” tegas Arief.

Melalui langkah cepat ini, Unpad menyatakan komitmennya untuk memperkuat sistem pencegahan dan penanganan kekerasan secara menyeluruh, guna menciptakan lingkungan kampus yang aman bagi seluruh sivitas akademika.

Ia juga mengajak seluruh pihak untuk mendukung upaya tersebut.

“Unpad terbuka atas segala masukan dari semua pihak dari unsur masyarakat umum, sehingga dapat membantu menjaga suasana kampus selalu kondusif dan nyaman sebagai institusi pendidikan,” pungkasnya. (Ka/dtc)

LAINNYA
x
error: Content is protected !!