“Memang controlling ketat itu paling penting. Jadi controlling ketat, maka karantina kesehatan kita harus kita perkuat. Maka saya setiap ke airport di mana pun di Indonesia saya selalu ke Balai Karantina Kesehatan kita,” ujar Benjamin di Istana Negara, dikutip dari Antara, Rabu (3/2/2026).
“Saya mau cek di Cengkareng itu, di Airport Soetta itu di setiap terminal ada, baik kedatangan maupun keberangkatan. Jadi bagus saya perhatikan,” lanjutnya.
Benjamin mengatakan bahwa virus Nipah merupakan penyakit infeksius dengan tingkat kematian tinggi. Meski, jumlah kasusnya relatif jauh lebih kecil bila dibandingkan COVID-19, kewaspadaan tetap harus dilakukan.
Viru ini sebelumnya ditemukan di India dan membuat beberapa negara di Asia meningkatkan kewaspadaan di bandara. Salah satu negara yang menerapkan pengawasan ketat adalah Thailand.
“Kalau Thailand sangat kencang tuh di airport-nya. Tapi India pun sudah langsung memblok karena mereka, kasusnya belum sampai 1.000 sih sejak tahun 1998. Jadi dia nggak seperti COVID, tapi kalau tertular sangat infeksius,” katanya.
Kementerian Kesehatan hingga saat ini belum mendeteksi infeksi virus Nipah di Indonesia. Gejala infeksi virus Nipah umumnya meliputi demam, tapi dapat berkembang menjadi infeksi berat pada paru-paru yang mengakibatkan pneumonia.
“Jadi sangat membahayakan. Tapi di seluruh India baru dua orang tuh dari 1,5 miliar penduduknya, jadi ya kita waspadalah,” pungkasnya.