x

Kasus ASN Tewas Lompat Dari Lantai 12 Apartemen di Medan, Dua Wanita Open BO Jadi Tersangka 

4 minutes reading
Thursday, 16 Jul 2026 19:19 0 98 Teuku Yan

BICARAINDONESIA-Medan: Satreskrim Polrestabes Medan mengungkap peristiwa tewasnya AL (27), ASN di Kantor Pertanahan Nias setelah melompat dari lantai 12 Apartemen Skyview Medan. Bunuh diri yang dilakukan korban, ternyata berlatar belakang pemerasan yang dilakukan wanita berprofesi melayani jasa prostitusi online.

Setelah melakukan penyelidikan, polisi menemukan fakta, korban diduga merupakan korban bagian dari sindikat. Belakangan dua orang wanita yang berprofesi sebagai cewek panggilan online yang dikenal korban melalui aplikasi kencan, resmi ditetapkan sebagai tersangka.

Bahkan polisi memastikan, bahwa AL bukan korban pertama para tersangka.

“Untuk perbuatan yang seperti ini, memeras, pelaku mengakui bahwa dia sudah beberapa kali melakukan pemerasan,” kata Kanit PPA Iptu Dearma Sinaga dalam temu pers di gedung Satreskrim Polrestabes Medan, Rabu (15/7/2026).

Kedua tersangka tersebut adalah FR (31) dan JS (29). Para pelaku melancarkan aksinya dengan memasang foto profil orang lain di aplikasi kencan itu.

“Setelah dia melakukan deal-dealan, kemudian pada saat (pelayanan) tambahan, dia (pelaku) minta biaya tambahan. Foto itu untuk nilai jual, biasanya dia (pelaku) ganti-ganti (fotonya)” tuturnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sejauh ini, para pelaku sudah tiga kali memeras pelanggannya. Peristiwa pertama dan kedua juga terjadi di hotel pada Maret dan April 2026 dengan nilai uang yang diperas sebesar Rp1.000.000 dan Rp2.500.000. Sementara pemerasan ketiga terjadi kepada korban AL pada Juli 2026.

Dalam kasus ini, kedua tersangka dijerat dengan Pasal 462 KUHPidana terkait bunuh diri dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara. Kini, kedua tersangka telah ditahan.

Kronologis

Potongan video jasad korban yang ditemukan tewas setelah lompat dari lantai 12 Apartemen Skyview Medan/Foto: yu

Seperti diketahui sebelumnya, seorang ASN Kantor Pertanahan (Kantah)  Nias berinisial AL (27) diduga tewas usai melompat dari lantai 12 Apartemen Skyview Medan karena diperas 2 cewek open BO yang merupakan sindikat pemerasan. Korban mengenal dan berkomunikasi dengan pelaku FR (31) melalui aplikasi MiChat. Kemudian korban menyuruh pelaku datang ke apartemen tersebut pada Jumat (10/7/2026) sekitar pukul 03.30 WIB. Ternyata, pelaku FR mengajak temannya, yakni pelaku JS (29).

Saat itu, korban menolak berhubungan badan dengan pelaku FR karena foto yang berada di aplikasi ternyata bukan foto FR. Alhasil, korban memutuskan berhubungan badan dengan pelaku JS saja.

Lalu, kata Adrian, pelaku FR keluar dari dalam hotel pada pukul 04.31 WIB dan menunggu di lorong depan kamar. Namun, sebelum keluar, FR minta uang cancel ke korban sebesar Rp400 ribu.

Sementara itu, pelaku JS mengatakan tarif berhubungan dengannya sebesar Rp850 ribu. Uang tersebut pun dikirim korban ke rekening yang diberikan pelaku FR.

Korban dan JS pun berhubungan badan. Setelah selesai, korban meminta pelayanan tambahan. Saat itu, antara korban dan pelaku JS memang tidak lebih dulu menyepakati harga untuk pelayanan tambahan itu. Setelah selesai, JS memanggil pelaku FR untuk masuk ke hotel.

“Nah, di situ mereka meminta uang tambahan sebesar Rp4.500.000 untuk adegan tambahan tadi. Ini kan berarti empat kali lipatlah dari harga awalnya (Rp 850 ribu),” kata Kasatreskrim Polrestabes Medan AKBP Adrian Risky Lubis saat konferensi pers, Rabu (15/7/2026).

Korban pun menolak membayar uang itu karena jumlahnya yang sangat besar. Namun, para pelaku terus mendesak korban untuk membayar uang tersebut. Bahkan, para pelaku juga memaksa melihat saldo rekening korban di ponselnya.

“Jadi dia (pelaku) memaksa korban untuk menunjukkan saldonya di handphone-nya si korban sambil mendekati korban. Kamar itu ada balkon, balkonnya itu sekitar satu meter lah jaraknya dari pintu kamar,” kata Adrian.

“Untuk perbuatan yang seperti ini, memeras, pelaku mengakui bahwa dia sudah beberapa kali melakukan pemerasan, dengan cara setelah dia melakukan deal-deal-an, kemudian pada saat (pelayanan) tambahan dia (pelaku) minta biaya tambahan. Foto itu untuk nilai jual, biasanya dia (pelaku) ganti-ganti (fotonya),” jelasnya.

Menariknya, salah seorang pelaku berinisial FR itu sempat berkonsultasi dengan AI atau artificial intelligence setelah kejadian itu. Pelaku FR mencari tahu soal proses penyelidikan petugas kepolisian.

Rincian yang ditanyakan pelaku ke AI adalah ‘Berapa hari kita akan dipanggil ke kantor polisi sebagai saksi dari waktu kejadian? ‘Kalau ada orang bunuh diri, kita di TKP, berapa lama kita dipanggil?’.

Lalu, ‘Kalau satu minggu setelah kejadian, kita tidak dipanggil oleh polisi, apakah kita sudah di posisi aman atau belum?’. ‘Gimana cara supaya tenang menghadapi nanti kalau kita dipanggil polisi?’.

“Jadi, setelah kejadian itu, FR ini sempat berkonsultasi AI Dola,” kata Adrian. (Ty/detikcom)

LAINNYA
x
error: Content is protected !!