‘Kursi Panas’ Kepling IX Denai, Siapa Menyeret BKM Al Ridha Berpolitik Praktis?

Surat mosi tak percaya warga Lingkungan IX Denai terhadap Kepling lama dan mengajukan dukungan terhadap Ade Rangkuty dengan bertanda tangan pengurus dan berstempel BKM A-Ridha/foto : ist

BICARAINDONESIA-Medan : Seperti menjadi budaya sehingga dianggap lazim, setiap kontestasi di Indonesia, acapkali memicu kekisruhan. Bahkan, pro kontra yang harusnya menjadi hal biasa, terkadang sering dikemas hingga memunculkan konflik.

Ironisnya, tak hanya di level legislatif dan eksekutif yang dipilih secara politis, untuk pemilihan Kepala Lingkungan (Kepling) yang menjadi wewenang Camat dengan tim verifikasinya untuk menentukan, tetap menimbulkan polemik yang ujung-ujungnya justru membuat hubungan sesama warga tak kondusif.

Hal ini pula yang terjadi di Lingkungan IX, Kelurahan Denai, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, Sumatera Utara. Suasana yang tadinya ‘guyub’, kini mendadak terganggu akibat terpecahnya kelompok warga akibat aksi dukung mendukung siapa yang bakal menduduki ‘kursi panas’ Kepling.

Berdasarkan data yang dihimpun tim Bicaraindonesia.net, ada 2 kontestan yang berlaga untuk menjadi Kepling. Keduanya yakni Jaksa Ruddin dan M Ade Rangkuty, AMd.

Tapi belakangan, calon bernama Jaksa Ruddin dikabarkan gugur dalam pencalonan karena tak mampu memenuhi aturan Perwal No 21 tahun 2021 yang dijelaskan dalam Pasal 6, karena statusnya masih tercatat sebagai seorang honorer di Satpol PP Pemkab Serdangbedagai.

Dengan demikian, informasi yang berkembang saat ini tersisa satu calon yang ikut dalam kontestasi. Namun belakangan, di saat menjelang pengumuman calon yang kabarnya akan disampaikan pada Senin, 10 Januari 2022, kabar tak sedap mulai mendera si calon tunggal M Ade Rangkuty, AMd.

Kabar tak sedap lainnya, dari ratusan pendukungnya untuk memenuhi quota dukungan 30%, isunya bermukim di luar Lingkungan IX, Kelurahan Denai. Di samping itu, M Ade juga terindikasi menyeret pihak Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Al-Ridha berpolitik praktis.

Dugaan itu semakin menguat dengan beredarnya surat berkop ‘Pernyataan Sikap Warga Lingkungan IX, Kelurahan Denai, Kecamatan Medan Denai’. Dengan mencantumkan 125 nama warga plus tanda tangan sebagai bentuk mosi tak percaya, di dalam surat itu tertulis

‘Kami warga Lingkungan IX Denai secara sadar dan pikiran yang sehat, dengan ini menyatakan sikap bahwa kami di Lingkungan IX menginginkan Kepala Lingkungan yang baru mengingat :
1. Sulitnya warga mengurus administrasi kependudukan
2. Kurangnya pendekatan kepada Masyarakat Lingkungan IX dan menyosialisasikan program-program pemerintah di tingkat Lingkungan IX, sehingga masih banyak warga yang mengeluh dalam mendapatkan informasi
3. Bersikap arogan, tidak adil dan dianggap tidak mampu menjalankan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) sebagai Kepala Lingkungan di Lingkungan IX.

Maka dengan ini kami warga Lingkungan IX meminta kepada bapak yang berwenang untuk dapat menggantikan Kepala Lingkungan IX an. Faisal Al Breky tersebut, karena tidak dapat bersinergi dengan elemen masyarakat di Lingkungan IX.

Tapi anehnya, dalam surat pernyataan sikap itu langsung dituliskan ‘Dan kami warga beserta tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh agama di Lingkungan IX, Kelurahan Denai, Kecamatan Medan Denai telah berdiskusi dan mendukung bahwa Saudara yang bernama M Ade Rangkuty, AMd. Agar dapat menggantikan kepala lingkungan yang baru di Lingkungan IX.

Lalu di bagian bawah surat tanpa tanggal itu, tercantum turut mengetahui unsur pimpinan BKM Al-Ridha terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara yang ikut membubuhkan tanda tangan dan cap stempel organisasi.

Angkuhnya Sekcam Denai

Untuk menelisik masalah ini, wartawan mencoba konfirmasi kepada Sekcam Medan Denai Yoga Irawan, sebagai ketua tim verifikasi yang ditunjuk camat sesuai dengan Perwal No 21 tahun 2021.

Akan tetapi, bukannya menjawab soal berapa kandidat yang maju dan menanggapi soal dugaan adanya calon yg mengajukan dukungan menggunakan warga diluar Lingkungan IX dan menyangkut adanya oknum calon yang seolah menyeret BKM Al Ridho ikut berpolitik praktis dg ikut aksi dukung mendukung, si Sekcam malah terkesan angkuh dalam membalas konfirmasi via pesan whatsapp tersebut.

“Kepling bukan jabatan politik tdk ada yg berpolitik praktis, pahami dulu perwal, perda baru bertanya,” balas Yoga dengan kalimat terkesan angkuh, Jum’at (7/1/2022).

Disinggung tentang kalimat yang terkesan angkuh itu, si Sekcam kembali membalas dengan tanda baca “??” dan “Tks” saat wartawan mengatakan jawabannya itu akan dimuat.

Penulis : AA
Editor : Teuku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!