x

Menjaga Kepercayaan di Tengah Bencana, Kolaborasi Dosen Dampingi Penggalangan Donasi di Aceh Tamiang

6 minutes reading
Friday, 24 Jul 2026 15:22 0 120 Khair

BICARAINDONESIA – Aceh Tamiang – Media sosial tak cukup hanya ramai. Transparansi, akuntabilitas, dan laporan yang mudah dipahami menjadi kunci menjaga kepercayaan publik dalam penggalangan donasi bencana. Di tengah semakin masifnya pemanfaatan media sosial untuk menggalang bantuan kemanusiaan, persoalan kepercayaan publik menjadi tantangan yang tidak bisa dianggap sepele. Informasi yang tidak lengkap, dokumentasi penyaluran bantuan yang minim, hingga laporan penggunaan donasi yang sulit dipahami dapat membuat masyarakat ragu untuk berpartisipasi.

Berangkat dari persoalan tersebut, tim dosen Politeknik LP3I Medan berkolaborasi dengan dosen Program Studi Profesi Ners Universitas Aufa Royhan melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertema “Digital Trust: Pemanfaatan Media Sosial sebagai Instrumen Bantuan Penggalangan Donasi Bencana yang Transparan dan Akuntabel dalam Gerakan Tamiang Bangkit.”

Kegiatan berlangsung di Dusun Suka Mulia, Desa Rantau Bintang, Kabupaten Aceh Tamiang, dengan melibatkan Gerakan Tamiang Bangkit, relawan, perangkat desa, masyarakat, serta mahasiswa. Program diarahkan untuk membantu komunitas mengelola penggalangan donasi melalui media sosial secara lebih profesional, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ketua pelaksana kegiatan, Sri Eka Wulandari, S.E., M.Si., mengatakan bahwa media sosial memang mampu mempercepat penyebaran informasi kebencanaan dan menjangkau calon donatur dalam waktu singkat. Namun, kecepatan itu harus diimbangi dengan tata kelola informasi yang baik.

“Kepercayaan masyarakat tidak dibangun hanya melalui unggahan ajakan berdonasi. Publik juga perlu mengetahui bagaimana bantuan dihimpun, digunakan, dan disalurkan kepada penerima manfaat. Karena itu, dokumentasi dan pelaporan harus menjadi bagian penting dari setiap kampanye kemanusiaan,” ujarnya.

Bukan Sekadar Ajakan Berdonasi

Dalam kegiatan tersebut, relawan mendapatkan pemahaman mengenai konsep digital trust, transparansi organisasi, akuntabilitas pengelolaan donasi, etika komunikasi digital, keamanan informasi, serta pentingnya menjaga kredibilitas organisasi di ruang digital.

Peserta juga mengikuti pelatihan pemanfaatan Facebook, Instagram, WhatsApp, TikTok, dan berbagai platform digital lainnya untuk menyampaikan informasi kebencanaan. Materi diberikan secara praktis, mulai dari teknik mengambil foto dan video menggunakan telepon pintar, menyusun caption yang humanis, membuat konten informatif, hingga menyampaikan laporan donasi melalui media sosial.

Pendekatan yang digunakan tidak berhenti pada ceramah. Peserta terlibat dalam diskusi, simulasi pembuatan konten, praktik penyusunan dokumentasi, serta latihan membuat laporan sederhana mengenai dana yang masuk, pengeluaran, bentuk bantuan, dan penerima manfaat.

Tim pengabdian menekankan bahwa konten kebencanaan perlu tetap menghormati martabat penerima bantuan. Dokumentasi foto maupun video harus dilakukan secara etis, tidak mengeksploitasi penderitaan korban, serta memperoleh persetujuan dari pihak yang didokumentasikan.

Setiap Dosen Membawa Keahlian Berbeda

Kegiatan ini dipimpin oleh Sri Eka Wulandari, S.E., M.Si., yang bertugas mengoordinasikan keseluruhan program, mulai dari identifikasi kebutuhan mitra, komunikasi dengan Gerakan Tamiang Bangkit dan pemerintah desa, pembagian peran tim, hingga pengendalian pelaksanaan serta evaluasi kegiatan.

Hidayah Yoanna Putri, S.E., M.Si. berperan dalam penyusunan strategi komunikasi digital dan pemanfaatan media sosial. Ia memberikan pendampingan mengenai penyusunan konten yang informatif, konsistensi publikasi, penentuan sasaran audiens, serta cara membangun interaksi dua arah dengan masyarakat dan donatur.

Sementara itu, Andry Syah, S.Pd.I., M.Pd. bertugas pada aspek edukasi dan fasilitasi pembelajaran. Ia membantu menyusun metode penyampaian materi, memandu diskusi bersama relawan dan masyarakat, serta memastikan konsep digital trust dapat dipahami secara sederhana dan diterapkan dalam aktivitas organisasi.

Dari sisi akuntansi, Khairunnisa Almadany, S.E., M.Si. memberikan pendampingan mengenai pencatatan penerimaan dan pengeluaran donasi, pengumpulan bukti transaksi, penyusunan format laporan sederhana, serta mekanisme pertanggungjawaban dana yang mudah dipahami oleh masyarakat.

Flora Silalahi, S.E., M.M. berperan dalam penguatan tata kelola organisasi dan pengelolaan kampanye sosial. Ia mendampingi mitra dalam menyusun alur kerja penggalangan donasi, pembagian tanggung jawab relawan, penguatan hubungan dengan donatur, serta strategi menjaga reputasi organisasi secara berkelanjutan.

Selanjutnya, Syahril, S.E., M.Si. bertugas mendukung proses monitoring dan evaluasi program. Perannya mencakup pengumpulan umpan balik peserta, penilaian penerapan hasil pelatihan, serta penyusunan rekomendasi agar sistem dokumentasi dan pelaporan dapat terus digunakan dalam kegiatan berikutnya.

Pada aspek teknologi, Arie Candra Panjaitan, S.Pd., M.Si. mendampingi pemanfaatan perangkat dan aplikasi digital untuk dokumentasi, pengelolaan arsip, penyimpanan data, serta penyusunan media edukasi. Pendampingan ini membantu relawan mengelola foto, video, bukti transaksi, dan laporan kegiatan secara lebih terstruktur.

Kolaborasi tersebut turut diperkuat oleh dosen Program Studi Profesi Ners Universitas Aufa Royhan, Ns. Ulfah Hidayah Almadany, M.Kep. Ia berperan memberikan perspektif kesehatan dan keperawatan komunitas, khususnya dalam mengidentifikasi kebutuhan kelompok rentan pascabencana, memperhatikan kondisi kesehatan masyarakat, serta mengarahkan proses penyaluran bantuan agar sesuai dengan kebutuhan nyata warga.

Keterlibatan dosen dari bidang keperawatan dinilai penting karena penanganan masyarakat pascabencana tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan logistik, tetapi juga kesehatan fisik, kebersihan lingkungan, kelompok rentan, serta dukungan psikososial.

Hasil Pelatihan Mulai Diterapkan

Berdasarkan monitoring yang dilakukan tim, Gerakan Tamiang Bangkit mulai menerapkan sejumlah perubahan dalam pengelolaan informasi. Penyampaian kegiatan menjadi lebih terstruktur, dokumentasi disusun lebih lengkap, dan laporan penggunaan donasi mulai dipublikasikan secara lebih terbuka.

Penyampaian materi mengenai digital trust, transparansi, dan akuntabilitas penggalangan donasi kepada relawan dan masyarakat.

Media sosial juga tidak lagi digunakan hanya untuk menyebarkan ajakan berdonasi. Platform digital mulai diarahkan sebagai sarana edukasi, komunikasi publik, dokumentasi penyaluran bantuan, serta media pertanggungjawaban kepada masyarakat.

Laporan kegiatan mencatat bahwa target peningkatan kapasitas mitra telah tercapai. Peserta mampu menjelaskan konsep digital trust, menyusun konten media sosial, mendokumentasikan kegiatan, serta menggunakan format pelaporan donasi yang lebih sistematis. Tim juga menghasilkan satu paket slide presentasi interaktif, materi pelatihan, format dokumentasi, dan mekanisme laporan yang diserahkan kepada mitra untuk digunakan secara berkelanjutan.

Menjaga Kepercayaan setelah Kampanye Selesai

Tim pengabdian menilai tantangan terbesar dalam penggalangan donasi bukan hanya mendapatkan perhatian masyarakat pada awal kampanye, melainkan menjaga komunikasi hingga seluruh bantuan selesai disalurkan.

Penyerahan materi presentasi dan Digital Trust Campaign Kit kepada mitra sebagai media edukasi yang dapat digunakan dalam kegiatan sosial berikutnya.

Organisasi sosial perlu memberikan pembaruan secara berkala, menyampaikan bukti penyaluran, menjelaskan kendala di lapangan secara jujur, serta memublikasikan laporan akhir yang mudah dipahami. Langkah tersebut penting agar donatur merasa menjadi bagian dari proses kemanusiaan, bukan sekadar sumber dana.

Melalui kegiatan ini, Politeknik LP3I Medan dan Universitas Aufa Royhan berharap praktik penggalangan donasi berbasis media sosial di Aceh Tamiang dapat berkembang menjadi lebih transparan, akuntabel, dan berkelanjutan.

Kolaborasi perguruan tinggi, komunitas sosial, pemerintah desa, relawan, dan masyarakat juga diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan. Pendampingan lanjutan diperlukan agar digital trust benar-benar menjadi budaya organisasi dalam setiap gerakan kemanusiaan.

“Teknologi hanya menjadi alat. Hal yang paling penting adalah integritas orang-orang yang menggunakannya. Ketika informasi disampaikan secara jujur, bantuan didokumentasikan dengan baik, dan setiap donasi dipertanggungjawabkan, kepercayaan masyarakat akan tumbuh dengan sendirinya,” pungkas Sri Eka Wulandari.

No Comments

Leave a Reply

LAINNYA
x
error: Content is protected !!