x

Pemuda Natuna Dikabarkan Tewas di Rusia, Diduga Jadi Tentara Bayaran

4 minutes reading
Wednesday, 30 Sep 2026 16:36 0 64 Teuku Yan

BICARAINDONESIA-Kepri: Pemuda asal Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau (Kepri) bermama Rendi dikabarkan tewas saat berada di Rusia. Kebeadaan Rendi di Rusia dikabarkan bergabung dengan tentara Rusia.

Starki, Ketua RT 03/RW 01 Air Keruh, Kelurahan Ranai Darat, Kecamatan Bunguran Timur, Natuna mengatakan informasi mengenai kondisi Rendi diperoleh dari pihak keluarga dan rekan Rendi yang berada di Indonesia.

“Pihak keluarga dapat telepon dari kawannya yang di Indonesia, itu dia sudah meninggal,” kata Starki, Rabu (30/10/2026).

Starki mengatakan Rendi meninggalkan Natuna sekitar 2022 untuk mencari pekerjaan. Awalnya Rendi disebut pergi ke Tanjungpinang, kemudian Batam dan Jakarta.

“Dia meninggalkan Ranai sekitar 2022. Tujuan awalnya ke Tanjungpinang, cari kerja. Setelah beberapa tahun di Tanjungpinang, ke Batam, kemudian ke Jakarta,” ujarnya.

Menurutnya, keluarga masih mengetahui keberadaan Rendi ketika bekerja di Filipina. Rendi disebut bekerja di bidang jaringan atau internet.

“Kemudian, sekitar Februari-Maret 2026, keluarga mendapat informasi bahwa Rendi berada di Rusia. Berdasarkan informasi, Rendi berangkat dari Jakarta menuju Dubai sebelum melanjutkan perjalanan ke Rusia sekitar Mei 2026,” Ujarnya.

Starki mengatakan keluarga awalnya mendapat informasi bahwa Rendi bekerja di Rusia bukan sebagai tentara, melainkan di bagian logistik makanan.

“Jadi keterangan si Rendi ini, dia bekerja di Rusia itu bukan sebagai tentara bayaran, tapi sebagai pengantar logistik makanan,” ujarnya.

Namun, belakangan keluarga menyebut Rendi bercerita bahwa dirinya akan dipindahkan dari pekerjaan logistik menjadi pasukan tempur.

Menurut Starki, Rendi disebut tidak bersedia dengan pemindahan tersebut karena tidak sesuai dengan pekerjaan yang sebelumnya disepakati.

“Dia menolak karena tidak sesuai dengan kontraknya. Setelah itu dia sudah pasrah, mau mundur tidak bisa, mau tidak mau ikut alur. Tidak bisa kembali ke Indonesia karena paspornya ditahan,” Ujarnya.

Setelah beberapa waktu berada di Rusia, komunikasi Rendi dengan keluarganya disebut terputus. Keluarga awalnya mengira telepon Rendi tidak aktif karena persoalan baterai atau kondisi lainnya.

Namun, keluarga kemudian mendapat informasi dari rekan Rendi di Indonesia bahwa Rendi telah meninggal dunia.

“Tak lama kemudian dapat telepon dari kawannya yang di Indonesia, itu dia sudah meninggal,” kata Starki.

Rendi disebut meninggal dalam sebuah serangan drone Ukraina ke wilayah Rusia. Starki mengatakan informasi yang diterimanya menyebut serangan tersebut terjadi beberapa waktu lalu.

Menurut informasi yang diterima keluarga, seorang rekan Rendi juga mengalami luka parah dalam kejadian tersebut. Sementara jenazah Rendi disebut belum ditemukan.

“Keterangan dari kawannya itu, jenazahnya pun tidak ditemukan. Sudah hancur, tidak tahu di mana,” ujarnya.

Starki mengatakan keluarga masih berharap mendapat kepastian mengenai kondisi Rendi. Pihak keluarga juga disebut ingin melihat dan memastikan keberadaan jenazah Rendi apabila memang benar telah meninggal dunia.

“Keluarga mau lihat jenazahnya anaknya ini seperti apa. Kalau memang betul sudah dinyatakan meninggal,” Ujarnya.

Terkait informasi yang beredar mengenai Rendi mendapatkan bayaran sekitar Rp600 juta, Starki mengatakan pihak keluarga belum pernah menerima uang dengan nominal tersebut.

Menurutnya, memang terdapat informasi mengenai kontrak senilai Rp600 juta. Namun, belum diketahui apakah uang tersebut dibayarkan di awal kontrak atau setelah pekerjaan selesai.

“Yang itu kita belum dapat keterangan pasti. Apakah setelah kontrak itu selesai baru dibayarkan Rp600 juta, apakah waktu teken kontrak langsung dibayar Rp600 juta,” katanya.

Starki menegaskan keluarga Rendi tidak pernah menerima transfer sebesar Rp600 juta. Uang yang pernah diterima keluarga disebut hanya beberapa kali transfer dari Rendi dengan nominal sekitar Rp50 juta dan Rp20 juta.

Uang tersebut, kata Starki, bahkan disebut Rendi untuk keperluan orang tuanya menjalankan ibadah umrah.

“Sampai hari ini saya berani nyatakan bahwa itu hanya isu. Kebenarannya pun belum kita pastikan satu-satu,” ujarnya.

Starki mengatakan hingga kini pihak keluarga maupun dirinya belum mengetahui perusahaan atau pihak yang mempekerjakan Rendi di Rusia.

“Orang tuanya pun tidak tahu. Si Rendi pun tidak pernah bercerita dia kerja di perusahaan mana. Tahunya dia hanya berada di negara ini,” katanya.

Dia menyebut pihak Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) juga disebut telah melakukan penelusuran terkait keberadaan dan keberangkatan Rendi. Penelusuran tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat pihak yang merekrut warga Natuna untuk bekerja di luar negeri.

“Takutnya ada yang merekrut dari Natuna. Sejauh ini tidak ada,” ujarnya.

Starki menyebut berdasarkan informasi sementara, Rendi diduga mendapatkan informasi pekerjaan tersebut ketika berada di Filipina.

“Dugaan keluarga Rendi direkrutnya dari Filipina,” pungkasnya. (Rz/ detikcom)

LAINNYA
x