x

Pukat Trawl Marak Beroperasi, Nelayan Tradisional di Sibolga Terpaksa Beralih Profesi

3 minutes reading
Monday, 27 Jul 2020 17:08 0 210 admin

BICARAINDONESIA-Sibolga : Bila sebagian kecil masyarakat Sibolga menilai kehadiran kapal pukat trawl bisa membawa rezeki, namun situasi itu justru berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan nelayan tradisional di kota tersebut.

Karena dampak negatifnya bagi nelayan cukup besar, hingga akhirnya sebahagian besar nelayan tradisional terpaksa beralih profesi menjadi penarik becak. Karena akibat keberadaan pukat trawl yang semakin marak, penghasil nelayan sangat anjlok.

Ironisnya, situasi ini terus berlangsung secara bebas ditengah larangan penggunaan alat tangkap ikan terlarang itu. Hal itu juga ditegaskan lewat hasil kajian tindak lanjut Menteri KP Nomor B.717/MEN-KP/11/2019 tentang Kajian terhadap Peraturan Bidang Kelautan dan Perikanan.

Taslim Siregar, warga Aek Habil, Jl. Midin, Sibolga yang kini berstatus sebavai mantan nelayan tradisional mengisahkan, pukat trawl sering beroperasi di perairan Sibolga pada malam hari sekitar pukul 00.00 WIB.

Karena kerap beroperasi tengah malam, masih banyak masyarakat yang tidak percaya bahwa hingga kini pukat trawl masih bebas beraktivitas.

“Manalah tau mereka apalagi orang kantoran pukat trawl beroperasi, kami yang tau dilapangan bagaimana kondisinya seperti apa dilaut. Bahkan pada saat itu sampai ke belakang Poncan pun mereka menarik. Karena dulu banyak ikan dan udang kelong dibelakang Poncan itu,” ucap Taslim.

Jika ia terus memaksakan untuk terus kerja dilaut, lanjutnya, hasilnya dipastikannya jauh dari kata cukup. Hasil yang diperolehnya paling hanya antara 20 hingga 30 ribu rupiah saja. Sementara beban hidup semakin tinggi.

“Ditambah biaya anak sekolah setiap harinya, ada SMA, SMP, SD,” urainya.

Karena itu pula, di tahun 2007 silam, pria 55 tahun itu memutuskan beralih profesi menjadi penarik becak.

“Sebelum ada pukat trawl penghasilan lumayan. Jadi waktu mengail (memancing) kami paling lama seminggu kadang 5 hari pulang kami kalau cuaca bagus, tak terancamlah anak istri di rumah pokoknya. Jadi adanya pukat harimau disikatnya lah semuanya karang-karang di hajar mereka,” bebernya.

Karena tak ada solusi dan kondisi dapur yang terancam tak lagi mengepul, ia pun memilih menarik becak yang hasilnya lebih menjanjikan dibanding melaut.

“Bayangkan kalianlah, sawah pun kalau terus diinjak kerbau jangankan padi yang tumbuh rumput pun tak mau hidup, jadi seperti itulah laut itu terus dihajar di ambil hasilnya sampai-sampai merusak ekosistem laut,” jelasnya.

Selain merusak ekosistem laut, perkembangbiakan ikan, udang juga ikut punah akibat pukat trawl. Karena, telur-telur ikan itu hancur akibat tarikan dari trawl tersebut.

“Habislah pokonya rumah-rumah ikan, kalau tidak ramah alat tangkapnya dimana lagi ikan-ikan mau menelur,” cibirnya.

“Jadi kalau ada masyarakat yang bilang kalau tidak ada pukat trawl banyak pengangguran, itu bohong justru malah sebaliknyalah yang terjadi. Coba lihat saja pukat cincin itu, berapa anggotanya sekali berangkat mencapai 40 orangkan, jadi pukat trawl itu paling banyak yang berangkat hanya 15 orang. Jadi masyarakat juga sudah bisa menilai itu,” pungkasnya.

Penulis : Benny
Editor : Yudis

 

No Comments

Leave a Reply

LAINNYA
x