Foto: detikcom BICARAINDONESIA-Singapura: Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatra yang memicu kabut asap terus merajalela dan turut berdampak ke negara tetangga. Bahkan Singapura menunjukkan kualitas udara terburuk menjelang pagelaran F1.
Sesuai jadwal, para pembalap F1 akan menghadapi ujian fisik yang berat akhir pekan ini setelah Federasi Otomotif Internasional (FIA) menyatakan adanya bahaya panas untuk Grand Prix Singapura 2026. Ini adalah sebuah tantangan yang semakin diperumit oleh tingkat kabut asap yang tidak sehat menyebar di seluruh negeri Singa.
Menurut laporan The Strait Times pada Jumat (9/10/2026), Indeks Standar Polutan (PSI) di wilayah tengah Singapura berada di angka 166 pada pukul 8 pagi. Angka ini hanya beda satu poin lebih rendah di bandingkan polusi terburuk yang terjadi pada 29 September lalu.
Dalam peringatan harian kemarin malam, Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) memperingatkan bahwa kualitas udara dapat tetap berada dalam kisaran sedang hingga agak tidak sehat.
Badan tersebut mengatakan bahwa gumpalan asap sedang hingga tebal dari Sumatra selatan dan tengah serta Kalimantan Barat di negara tetangga Indonesia telah teramati melayang menuju Singapura.
Kondisi kering juga diperkirakan akan terus berlanjut di wilayah Indonesia yang terkena dampak, meningkatkan kemungkinan kabut asap yang berkelanjutan.
“Dengan adanya angin tenggara atau selatan yang dominan, kabut asap mungkin akan terus bergerak menuju Singapura,” kata NEA.
Direktur balapan Rui Marques mengeluarkan pernyataan pada 8 Oktober yang memberitahukan kepada tim bahwa peraturan bahaya panas akan diaktifkan untuk balapan sprint dan balapan utama, dengan layanan cuaca resmi memperkirakan suhu melebihi 31 derajat Celcius.
Balapan sprint akan menjadi bagian dari Grand Prix Singapura untuk pertama kalinya, menambah intensitas pada akhir pekan yang dianggap sebagai salah satu yang paling menuntut fisik dalam jadwal F1. Balapan ini akan berlangsung pada hari Sabtu, sebelum balapan utama sehari kemudian.
Peraturan bahaya panas mengharuskan tim untuk menerapkan langkah-langkah teknis pencegahan untuk melindungi para pebalap dari kelelahan akibat panas dan suhu tubuh inti yang berbahaya. Langkah ini melibatkan sistem pendingin yang terdiri dari pompa, pipa, dan penyimpanan termal yang mengirimkan cairan dingin ke pembalap melalui rompi tahan api khusus, seperti yang dilaporkan The Straits Times.
Selain panas, balapan juga akan menghadapi kabut asap. PSI 24 jam saat ini tetap berada dalam kisaran tidak sehat yaitu 101 hingga 200. Perwakilan dari Dewan Pariwisata Singapura dan penyelenggara GP Singapura mengkonfirmasi bahwa mereka memantau situasi dengan cermat.
Rencana darurat telah dibuat melalui konsultasi dengan lembaga pemerintah dan pemangku kepentingan untuk memastikan ketersediaan bantuan medis dan masker N95 di lokasi.
Terlepas dari tantangan cuaca, F1 telah meyakinkan publik bahwa balapan tidak berisiko dibatalkan, meskipun juru bicara FIA mengatakan kepada Reuters pada hari Kamis bahwa pembatasan kegiatan hiburan luar ruangan dapat terjadi jika kabut asap terus memburuk. (Rz/dtc)