BICARAINDONESIA-Jakarta : Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan tuduhan bahwa Presiden Kolombia, Gustavo Petro sebagai pengedar narkoba. Tuduhan Trump itu dilontarkan usai pasukan AS menyerang Caracas, ibu kota Venezuela, pada Sabtu (3/1/2026), membombardir target-target militer selama serangan mendadak untuk menggulingkan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro dari kursi Presiden.
Saat di dalam pesawat kepresidenan Air Force One pada Minggu (4/1), Trump membuat ancaman serupa tentang tindakan militer terhadap Kolombia. Trump mengatakan bahwa negara Amerika Selatan itu “juga sangat sakit” dan “dijalankan oleh orang sakit yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat.”
“Dia memiliki pabrik kokain dan tidak akan melakukannya lagi dalam waktu sangat lama,”kata Trump, dilansir kantor berita AFP, Selasa (6/1/2026).
Saat ditanya apakah Kolombia akan mendapat intervensi militer serupa dengan Venezuela, pemimpin Partai Republik itu berkata: “Kedengarannya bagus bagi saya.”
“Anda tahu mengapa, karena mereka membunuh banyak orang,” klaim Trump tanpa bukti.
Tuduhan Trump Terhadap Petro
Presiden Kolombia Gustavo Petro menolak tuduhan Trump yang menyebutnya sebagai pengedar narkoba. Ia mengatakan bahwa namanya tidak muncul dalam catatan pengadilan.
“Berhenti memfitnah saya, Tuan Trump,” cuit Petro di platform media sosial X.
“Bukan seperti itu cara Anda mengancam seorang presiden Amerika Latin yang muncul dari perjuangan bersenjata dan kemudian dari perjuangan rakyat Kolombia untuk perdamaian,” ujarnya.
Petro telah mengkritik keras aksi militer pemerintahan Trump di Amerika Selatan dan menuduh Washington menculik Maduro tanpa dasar hukum.
Dalam unggahan selanjutnya di X pada Minggu (4/1), Petro menambahkan, “teman tidak boleh mengebom.”
Kementerian Luar Negeri Kolombia menyebut ancaman presiden AS itu sebagai campur tangan yang tidak dapat diterima dan menuntut penghormatan.
Kolombia dan Amerika Serikat adalah sekutu militer dan ekonomi utama di kawasan itu, tetapi hubungan mereka telah tegang belakangan ini. Sejak awal masa jabatan kedua Trump, kedua pemimpin tersebut kerap berselisih mengenai isu-isu seperti tarif dan kebijakan migrasi.