x

Tragis! Murid SD di NTT Nekad Gantung Diri, Gegara Tak Mampu Beli Buku dan Pena

2 minutes reading
Tuesday, 3 Feb 2026 22:53 0 106 Teuku Yudhistira

BICARAINDONESIA-NTT: Dunia pendidikan tanah air kembali digegerkan dengan peristiwa tragis sekaligus menyedihkan, ketika seorang siswa SD berusia 10 tahun di Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur, nekad mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Menurut informasi, bocah berinisial YBS yang masih duduk di bangku kelas IV SD itu nekad bunuh diri karena kecewa ibunya tak mampu membelikannya buku dan pena seharga Rp10.000.

Sebelum bunuh diri, korban meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya, MGT, 47. Surat itu ditulis korban dalam Bahasa Bajawa.

Dalam surat itu, sebagaimana telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan:

“Surat buat Mama **** Mama saya pergi dulu Mama relakan saya pergi Jangan menangis ya Mama Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya Selamat tinggal Mama”.

Dikutip dari Antara, selama ini korban diketahui tinggal bersama neneknya, karena ibundanya, yang merupakan orangtua tunggal, bekerja sebagai petani dan kerja serabutan.

Ibu korban mengurusi lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia. Sebelum bunuh diri, korban sempat tinggal sehari bersama ibunya.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyatakan rasa keprihatinannya terhadap insiden tragis tersebut. Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah Yusuf, menegaskan insiden yang dialami anak tersebut menjadi perhatian pemerintah, khususnya Kementerian Sosial.

“Kami prihatin, turut berduka. Tentu, ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama, tentu bersama pemerintah daerah. Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita. Ya kita harapkan tidak ada (keluarga miskin dan miskin ekstrem) yang tidak terdata,” kata Gus Ipul menjawab pertanyaan wartawan saat ditemui di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Ia menekankan pentingnya membangun basis data Kementerian Sosial agar menjangkau seluruh keluarga di Indonesia, termasuk keluarga-keluarga yang berada di kategori miskin ekstrem (desil-1), dan kategori miskin (desil-2).

“Ini hal yang sangat penting. Saya kira kembali kepada data. Bagaimana data ini kita saksikan sebaik mungkin sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi, dan memerlukan pemberdayaan,” ujar Gus Ipul.

“(Insiden) Ini sungguh-sungguh menjadi keprihatinan kita bersama,” tandas Gus Ipul. (Rz/*)

LAINNYA
x
error: Content is protected !!