Ilustrasi : Ist. BICARAINDONESIA-Jakarta : Sejumlah kantor media di Irlandia menerima ancaman bom palsu. Ancaman tersebut memicu kenpanikan dan ketakutan masyarakat.
Dilansir kantor berita AFP dan detikom, Sabtu (7/11/2026), ancaman di Irlandia tersebut terjadi di tengah banyaknya penerbangan di Eropa juga dilanda ancaman bom. Dalam beberapa pekan ini, ancaman bom itu memaksa pihak berwenang mengalihkan rute beberapa pesawat atau mengawal pesawat sipil dengan jet tempur.
Pemerintah Irlandia mengonfirmasi bahwa polisi merespons stasiun penyiaran nasional RTE, Virgin Media, radio Newstalk, dan surat kabar The Irish Independent yang semuanya menerima ancaman bom palsu. Belum diketahui siapa sosok yang mengirimkan ancaman bom itu.
“Belum diketahui siapa yang bertanggung jawab atas ancaman-ancaman ini, apakah itu individu atau upaya terpusat atau terkoordinasi,” kata pemerintah dalam pernyataanya, dikutip dari detikcom.
“Namun, ancaman-ancaman ini muncul di tengah gangguan yang sedang berlangsung pada sektor penerbangan di seluruh Eropa akibat ancaman serupa, dan tampaknya ini merupakan kampanye terkoordinasi untuk menimbulkan gangguan,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Pemerintah mengatakan bahwa ancaman yang dilontarkan Jumat pagi terhadap organisasi media sangat serius. Ancaman ini bahkan menimbulkan kepanikan masyarakat.
“Ancaman palsu seperti ini menimbulkan ketakutan, kegelisahan, dan gangguan bagi masyarakat yang sedang menjalani kehidupan dan aktivitas sehari-hari; ancaman tersebut sama sekali tidak memiliki tujuan positif apa pun,” kata pernyataan tersebut.
Pemerintah mengatakan, kepolisian bekerja sama dengan militer, otoritas siber, dan otoritas penerbangan Irlandia, serta mitra-mitra di Eropa, untuk menemukan para pelakunya.
“Segala upaya akan dilakukan untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang bertanggung jawab dan meminta pertanggungjawaban mereka,”katanya.
Setelah diterimanya ancaman tersebut, polisi pun dikerahkan ke kantor pusat RTE di Dublin dan lokasi-lokasi lain yang menjadi sasaran.
Pembawa acara radio Newstalk, Claire Byrne mengatakan, setelah kembali mengudara bahwa staf di sana disarankan untuk meninggalkan gedung mereka menyusul ancaman bom itu.
“Kami telah diberi tahu bahwa kami boleh kembali ke gedung tersebut dan bahwa peringatan itu hanyalah hoax,” ungkap dia. (Ka/dtc)