x

Korsel Mulai Pertimbangkan Wajib Militer untuk Para Perempuan

2 minutes reading
Tuesday, 1 Sep 2026 10:50 0 96 Iki

BICARAINDONESIA-Jakarta : Survei terbaru menunjukkan bahwa hampir 60 persen masyarakat Korea Selatan kini mendukung gagasan wajib militer bagi perempuan, menyamai laki-laki. Angka ini menandai pergeseran pandangan yang signifikan, karena sebelumnya gagasan prajurit perempuan dianggap tabu.

Kini ribuan perempuan bertugas di angkatan bersenjata Korea Selatan secara sukarela. Namun, perdebatan mengenai wajib militer bagi perempuan selalu menjadi perkara sensitif.

‎Angka kelahiran yang terus menurun dan menyusutnya jumlah calon prajurit, serta pandangan bahwa kesetaraan sosial berarti perempuan juga harus menjalani wajib militer, kembali mencuatkan isu tersebut. Perdebatan terutama menghangat jelang reformasi pertahanan nasional yang dijadwalkan dirilis musim gugur ini.

‎Kendati demikian, masih ada pihak yang bersikeras perempuan sebaiknya dijauhkan dari garis depan. Menurut mereka, Korea Selatan justru harus lebih banyak berinvestasi pada drone dan teknologi canggih lainnya.

‎”Wajib militer yang berpusat pada laki-laki di Korea Selatan sejak lama berkaitan erat dengan peran gender tradisional,” kata Hyobin Lee, profesor di Universitas Sogang, Seoul.

‎”Laki-laki pada umumnya diharapkan melindungi negara dan keluarga serta bertempur pada masa perang, sedangkan perempuan diharapkan memikul tanggung jawab utama atas kehamilan, pengasuhan anak, dan rumah tangga,” ujarnya kepada DW.

‎Faktor kedua adalah menguatnya perdebatan mengenai kesetaraan gender, yang sebagian besar didorong oleh laki-laki muda, katanya.

‎Perang lebih dari sekadar fisik. “Laki-laki Korea Selatan umumnya menjalani wajib militer pada awal usia 20-an. Hal itu mengganggu pendidikan, pekerjaan, atau perkembangan karier mereka pada tahap awal,” kata Lee.

‎”Pada saat yang sama, kesetaraan gender menjadi nilai sosial yang semakin penting, sementara kesempatan perempuan dalam pendidikan dan pekerjaan semakin luas.”

‎”Akibatnya, sebagian laki-laki muda mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana: jika masyarakat menghendaki kesetaraan dalam hak dan kesempatan, mengapa salah satu kewajiban kewargaan paling penting di negara ini—wajib militer—masih hanya dibebankan kepada laki-laki?” tanyanya.

‎Perubahan sifat militer dan pergeseran peran fisik ke teknologi juga memicu transformasi ini. Teknologi itu mencakup sistem nirawak, kemampuan siber, teknologi informasi dan komunikasi, serta berbagai teknologi lain yang tidak menuntut kekuatan fisik.

‎Survei menunjukkan mayoritas warga Korea Selatan, baik pria maupun wanita, mendukung wajib militer bagi perempuan. Namun, beberapa pihak khawatir hal ini akan menambah beban perempuan yang sudah memikul tanggung jawab keluarga lebih besar, serta berpotensi menurunkan angka kelahiran.

‎Di tengah penurunan jumlah calon wajib militer, pemerintah sedang mengkaji reformasi sistem pertahanan nasional, termasuk kemungkinan modernisasi militer dan peninjauan ulang wajib militer. (ki/dtc)

LAINNYA
x
error: Content is protected !!