x

Kisah Ijon Chaniago, Berjuang Seorang Diri Melawan Sakit di Rumah Gubuk Kontrakan

3 minutes reading
Thursday, 3 Dec 2020 07:44 0 145 admin

BICARAINDONESIA-Medan : Hiruk pikuk dan euforia pesta demokasi, rasa-rasanya hanya berkutat sebatas pertarungan para kandidat kepala daerah. Hal itu pula yang terjadi di Kota Medan.

Janji manis politik yang ditawarkan termasuk mengangkat persoalan kerakyatan, nyatanya masih jauh panggang dari api. Karena faktanya, masih banyak rakyat yang tidak bisa merasakan meriahnya pesta karena dipaksa menikmati hari-harinya dalam derita.

Cerita itu pula yang kini mengisi kehidupan Junaidi Chaniago. Sejak sepekan terakhir, pemuda 29 tahun itu hanya bisa meringkuk menahan perih akibat penyakit thypus yang dideritanya.

Apalagi kini ia hidup sebatangkara di dalam rumah kontrakan berdinding tepas dan beralas tanah berbanderol Rp200 ribu/bulan yang beralamat di Jl Brigjend Katamso Gg Sepakat Lingkungan V, Kelurahan Titi Kuning, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan.

Semua terjadi sejak pria yang akrab dipanggil Ijon itu ditinggal mati orangtua dan saudara kandungnya yang meninggal dunia satu persatu akibat penyakit serupa.

Karena kemiskinan, untuk kesehariannya, pria dengan kondisi tubuh yang terus mengurus itu, kini hanya mengandalkan uluran tangan tetangga yang masih peduli padanya. Karena memang tak ada lagi harta benda yang dimilikinya.

Informasi yang dihimpun dari para tetangga, terakhir kali yang meninggal dunia adalah aang ibu bernama Rostiana Ginting yang dikenal dengan panggilan Nande. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada Oktober 2020 lalu di usia 60 tahun.

Ia meninggal dunia tanpa penanganan medis sedikitpun, karena memang ketiadaan biaya untuk berobat. Sebelum meregang nyawa, kondisi Nande sama persis dengan apa yang dialami Ijon saat ini.

Semuanya terlihat jelas saat redaksi Bicaraindonesia.net berkunjung kekediamannya, Rabu malam, 2 Desember 2020. Ia tampak hanya bisa menahan sakit.

“Di rumah ajalah bang, gak ada biaya untuk berobat,” ucapnya lirih.

Handa, tetangga Ijon mengungkapkan, bahwa kondisi yang cukup parah itu sudah dialaminya sejak seminggu terakhir. Kepadanya Ijon mengaku mengalami kesulitan bernafas dan badan terbujur lemas.

“Kami sudah lapor kepada Kepala Lingkungan agar dia dibantu untuk perobatan dan perawatannya supaya nyawanya bisa diselamatkan. Tapi tidak ada realisasi,” ucapnya.

Handa juga memastikan bahwa Ijon selama ini sudah sendiri sejak orang tuanya sudah meninggal. Ia juga tidak memiliki pekerjaan tetap.

“Harusnya petugas kesehatan maupun unsur pemerintahan di lapangan seperti kepala lingkungan, Lurah hingga Camat juga diminta harus tanggap dan peduli terhadap masalah kesehatan warganya, jangan hanya menunggu bansos dari pemerintah pusat baru warganya dibatu, sementara kondisi sudah semangkin memburuk,” ketus Handa.

Ia dan warga sekitar juga berharap pihak Dinas Kesehatan maupun Dinas Sosial dapat berupaya memfasilitasi biaya pengobatan warga tidak mampu semaksimal mungkin.

“Jangan dibiarkan seperti ini sampai orang keburu mati. Untung malam tadi ada tim Formapera yang datang mengantar oksigen bantuan dari dermawan kerumahnya, Alhamdulillah dia bisa tidur. Sudah sepekan dia tidak tidur,” pungkasnya.

Penulis : MB
Editor : Yudis

 

No Comments

Leave a Reply

LAINNYA
x